Minggu, 25 Oktober 2009

Nyai Ontosoroh : Hikayat Perlawanan Sanikem

Diadaptasi : R Giryadi
dari novel BUMI MANUSIA karya Pramoedya Ananta Toer

BABAK I

Setting : Dekat Pabrik Gula Tulangan

ADEGAN 1
Orang-orang sedang bekerja, hilir mudik, membawa karung-karung (gula) dan juga batangan tebu dengan geledekan. Mereka bertelanjang dada. Tubuhnya hitam. Ada yang kekar. Tetapi ada juga yang kurus kering.



ADEGAN 2
Seorang Juragan (Mandor), dikawal oleh dua budaknya. Dengan berkacak pinggang, Mandor itu menuding-nuding, bahkan terkadang menendang para budak. Sementara di tempat yang berbeda anak-anak perempuan yang masih remaja, berlarian. Ibunya, mengikuti dengan isak tangisnya. Seorang laki-laki dengan kasar menangkap satu di antara mereka yang melarikan diri. Anak itu meronta-ronta. Tak ada yang berani melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih. Laki-laki kasar itu itu menyerahkan anak itu kepada seorang Mandor. Dengan imbalan seketip dua ketip, mereka melepaskan anak itu dibawa Mandor, entah kemana?

ADEGAN 3
Upacara menjadi dewasa. Sanikem meronta-ronta, ketika Sastrotomo, menyeretnya.

1. Sastrotomo
(Menyeret Sanikem) Kamu sekarang sudah dewasa, sudah saatnya nasibmu berubah. Hari ini akan datang orang yang membawa nasibmu lebih baik dari sekarang. Maka bersucilah, agar kemelaratanmu menjadi cambuk masa depanmu.

Ibunya Sanikem hanya bisa tersedu. Ia menggayung air bercampur bunga tujuh macam, dari genthong. Sanikem diam terpaku ketika air bunga tujuh macam mulai membasahi tubuhnya.

2. Sanikem
Sejak saat itu, nama Sanikem, sedikit-demi sedikit luntur oleh kemauan keras orang tuanya.

Dua orang datang membawa pakaian dan tikar pandan. Sanikem telah berganti ujud menjadi perawan. Kemudian dia tidur terlentang di atas tikar pandan. Ibunya kemudian melangkahinya tiga kali.

3. Istri Sastrotomo
Tabahkan hatimu, Nak. Usiamu sudah 14 tahun. Kau sudah haid. Tidak baik kau dikatakan perawan kaseb. Maka relakan hari mudamu ini.
4. Sanikem
Betul, saya sudah dewasa, tetapi saya punya hak untuk menentukan pilihan.

5. Sastrotomo
Tak ada kata pilihan! Pemuda-pemuda melarat dan kampungan, tak patut untuk dipilih. Yang ada sekarang kau dipilih untuk menjadi istri seorang yang kaya raya. Siapapun orangnya!

Sastrotomo menyeret Sanikem. Sanikem meronta. Ibunya membuntut dengan hati yang meronta. Ia membawa sekopor pakaian anaknya yang kumal. Sementara di tempat lain para budak menerima upah, Sastrotomo muncul dengan hati riang. Di belakangnya ada Sanikem. Ibunya yang kelihatan renta, hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasib anaknya. Di sudut lain, Tuan Besar Mellema berdiri tegak, angkuh dan sombong.

6. Sastrotomo
Betul, saya akan jadi Juru Bayar, Tuan? Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah sayaimpikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Sebagai penggantinya, terimalah persembahan saya. Ini anak saya, Tuan Besar Mellema. Terimalah. (Kepada Sanikem) Sanikem, mendekatlah, Nak. Dia adalah Tuan Besar.

7. Istri Sastrotomo
Jangan, Pak, jangan! Kenapa Ikem, kau serahkan kepada laki-laki raksasa itu? Oh, Pak, Pak. Kenapa kau tega, Pak?

8. Tuan Besar Mellema
Jadi ini anakmu? Bagus, bagus. Kowe, pintar… (Tertawa).

Tuan Besar Mellema pergi bersama dua pengawalnya, membawa Sanikem tanpa perlawanan. Sementara Istri Sastrotomo, terisak melihat anaknya dibawa Tuan Besar Mellema.

9. Sastrotomo
(Tertawa girang) Akhirnya saya jadi Juru Bayar!

10. Istri Sastrotomo
Sampeyan menjadi Juru Bayar, tetepi sampeyan harus membayar mahal, dengan mengorbankan masa depan Sanikem. Dia darah daging kita. Tetapi sampeyan tega menjual untuk menjadi gundik, demi ambisi sampeyan, Pak.

11. Sastrotomo
Kamu jangan banyak omong. Saya telah memperjuangkan anak saya untuk menjadi wanita terhormat. Istri Tuan Besar. Tuan Besar di Tulangan yang sangat kaya raya dan terhormat. Sanikem akan terhormat. Dan kita akan terhormat, karena Sanikem akan menjadi kaya raya dan tidak menjadi gelandangan bersama pemuda-pemuda kampung yang tidak berpendidikan.

12. Istri Sastrotomo
Buat apa harta benda, kalau hatinya terpenjara. Hidupnya terkerangkeng dalam genggaman, seorang laki-laki. Kita sudah kehilangan segalanya, Pak. Kamu lebih memilih sekeping Golden dan jabatan palsu. Tetapi sampeyan telah mengorbankan segalanya yang telah kita miliki dan telah kita rawat bertahun-tahun.
Anak-anak kampung yang dengan tulus memberikan cintanya, tetapi sampeyan tolak. Sementara dia yang datang dengan membawa segerobak kepalsuan sampeyan terima dengan tangan terbuka. Sampeyan telah mengadu nasib itu menjadi tidak menentu, Pak…

13. Sastrotomo
Diamlah. Saya punya rencana lain untuk Ikem. Rencana ini pasti akan mengubah hidup kita. Dan tidak ada urusannya dengan lamaran pemuda-pemuda kampung yang pada gudhikan itu. Apa mau kamu hidup melarat, dan hanya mengandalkan dari penghasilan saya sebagai Juru Tulis? Saya ini, sebentar lagi akan naik pangkat jadi Juru Bayar. Kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar Juru Tulis. Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan segala urusan. Apalagi Juru Bayar.
Ikem telah mendapatkan laki-laki yang pantas. Mulai saat ini Sanikem tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh memandang ke laki-laki yang berkeliaran dan tidak jelas itu. Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah saya impikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun!
Hehe..he..he..Juru Bayar. Saya akan jadi Juru Bayar. Semua orang di Pabrik Gula itu akan tunggu saya berderet-deret. Harus tunggu uang dari tangan saya. He..he…he..Saya akan jadi kasir. Bertumpuk-tumpuk uang di jari-jari saya. Semua orang akan berurusan dengan saya, Si Juru Bayar! Mereka harus datang ke saya. Harus ambil uang dari tangan saya dengan membubuhkan cap jempol. Para buruh, pedagang, akan bungkuk-bungkuk di depan saya. Tuan Totok, Peranakan, akan beri tabik pada saya. Guratan pena saya berarti uang. Saya akan masuk golongan penguasa di pabrik. Mereka harus dengar kata-kata saya : ‘Hei! Tunggu kau, disitu! Tunggu kau, disitu! He..he…Kalian akan berderet antri tunggu uang dari tangan saya…!’
Kemarilah istriku. Kau harus ikut senang, suamimu ini akan jadi Juru Bayar! Berpakaianlah yang pantas, selayaknya istri orang terpandang. Kamu jangan bersedih. Ikem akan lebih terhormat kawin dengan laki-laki kaya. Dia akan menghuni rumah besar. Kita bisa diundang ke sana sewaktu-waktu. Ayo istriku kita songsong kehidupan yang lebih baik.

Istri Sastrotomo terpaku. Ligting meremang. Out Stage. Disudut lain, Mellema sedang memandang Sanikem yang bongsor dan kelihatan cantik. Beberapa pembantu jalan jongkok, menyediakan minum dan buah-buahan. Sanikem hanya berdiri terpaku di pojok ruang, Tuan Besar Mellema.

14. Tuan Besar Mellema
Kowe sudah 14. Kowe sudah besar dan cantik, seperti bunga di Tulangan atau seperti mawar dari Surabaya. Kowe jangan takut dengan saya. (Kepada Sastrotomo). Sastrotomo! Ini berisi 25 golden. Kelak, setelah kowe lulus dalam pemagangan selama dua tahun, kowe akan jadi Juru Bayar.

15. Sastrotomo
(On stage) Terimakasih Tuan Besar. Saya jamin Ikem sangat penurut. (Kepada Sanikem) Ikem anggap saja ini rumahmu yang baru. Kau tidak boleh keluar rumah ini tanpa ijin Tuan Besar Kuasa. Kau juga tidak boleh kembali ke rumah tanpa seijin Tuan dan seijin Bapakmu.

Sastrotomo meninggalkan panggung. Lighting meremang biru. Tirai menurun pelan-pelan. Percintaan di balik tirai. Dua penari karonsih/tayub menari dengan lembut. Tetapi isak tangis jelas terdengar dari ibu Sanikem. Lighting semakin temaram. Penari karonsih menghilang di balik tirai. Di sudut yang lain, Nyai Ontosoroh berdiri kokoh.

16. Nyai Ontosoroh
Kini, Sanikem telah lenyap. Hilang untuk selama-lamanya. Sekarang, saya adalah Nyai Boerderij Buiternzorg. Orang-orang memanggil saya Nyai Ontosoroh. Hidup menjadi Nyai terlalu sulit. Dia Cuma seorang budak belian yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dalam segala hal! Sewaktu-waktu Nyai harus siap dengan kemungkinan Tuannya sudah mersa bosan, untuk dicampakan kembali, menjadi kere, tanpa hak perlawanan sedikitpun. Salah-salah, bisa badan diusir dengan semu anak-anaknya sendiri. Atau bahkan dengan tangan kosong. Ya, mereka telah membikin saya jadi Nyai begini. Maka saya harus jadi Nyai, jadi budak belian yang baik, Nyai yang sebaik-baiknya.
Mang, Mbok, ke sini kalian semua. (4 pelayan laki-laki dan 3 pelayan perempuan on stage). Dengar mulai saat ini kalian tidak usah kerja di sini. Kalian pasti sudah tahu saya adalah Nyai rumah ini sekarang. Saya tidak ingin ada saksi atas kehidupan saya sebagai Nyai di rumah ini. Kalian lebih berharga dari pada saya. Kalian kerja di sini, sedangkan saya, hina dina tanpa harga, tanpa kemauan sendiri berada di rumah ini.
Semua pekerjaan rumah biar saya kerjakan sendiri. Tetapi jangan kuatir, kalian akan pergi dengan membawa bekal. Lagi pula, di lain tempat pasti kalian akan bisa memburuh atau apa saja, karena kalian merdeka. Kecuali kau Darsam, tetaplah di sini. Jagalah saya!
Baiklah kalian berkemas, beresi barang-barang kalian. Kau Darsam, siapkan bekal secukupnya buat mereka.

Mereka out stage. Tuan Mellema on stage.

17. Tuan Besar Mellema
Nyai, kenapa kau mengusir semua Bujang dan Mbok? Pekerja-pekerja itu harus disewa untuk menjalakan usaha susu ternak rumah ini. Mulai saat ini kaupun harus mulai mengurusi semua urusan usaha. Satu hal yang harus kau ingat, majikan mereka adalah penghidupan mereka. Majikan penghidupan mereka adalah kau! Jadi kau harus jadi majikan yang baik, yang tahu bagaimana mengurus pekerjaannya.
Nyai, bacalah majalah-majalah itu selalu. Juga buku-buku itu akan membawamu kepada dunia yang maha luas. Dengan begitupun, bahasa melayu dan Belandamu akan terus maju dan Nyai akan semakin menguasai berbagai bidang dan pengetahuan.

18. Nyai Ontosoroh
Ya, saya akan menjalankan semua tugas sebaik-baiknya. Akan saya kerahkan seluruh tenaga dan perasaan yang ada di diri saya untuk Tuan. Sebaik-baiknya. Karena itulah tugas saya, sebagai Nyai Tuan. Apakah wanita Eropa diajar sebagaimana saya diajar sekarang ini, Tuan? Sudahkan saya seperti wanita Belanda?

19. Tuan Besar Mellema
Ha..ha..ha..tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti sekarang. Kau lebih mampu dari rata-rata mereka, apalagi yang peranakan. Kau lebih cerdas dan lebih baik dari mereka semua. Tapi kau juga harus selalu kelihatan cantik, Nyai. Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga pencerminan perusahaan yang kusut dan berantakan….

Darsam, masuk panggung (on stage) bersama Sastrotomo dan Istrinya datang dengan berjalan jongkok.

20. Darsam
Tuan, maaf Tuan, ada orang tua Nyai datang, Tuan. Mereka menunggu di depan.

21. Nyai Ontosoroh
Katakan kepada mereka, bahwa Sanikem tidak ada sekarang.

22. Tuan Besar Mellema
Temuilah…

23. Nyai Ontosoroh
Kalau saya menemuinya, berarti Tuan telah mengembalikan saya kepada pemiliknya semula. Apakah saya harus pergi dari sini? Bakal jadi apa kalau saya tidak sanggup bersikap keras. Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak jua mau menghilang. Bila teringat kembali bagaimana terhinannya saya dijual kepada Tuan. Saya tak mampu mengampuni kerakusan Ayah saya dan kelemahan Ibu saya. Sekali dalam hidup kita meski menentukan sikap. Sudahlah, biar semua putus sudah terhadap masa lalu. Itu sudah sebaik-baiknya yang saya bisa lakukan. Suruh mereka pulang atau Tuan akan kehilangan sapi-sapi dan pabrik susu itu…? Saya telah menjadi telor yang jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah.

24. Tuan Besar Mellema
(Pause) Kau terlalu keras Nyai…Temui Ayahmu!

25. Nyai Ontosoroh
Saya memang ada ayah, dulu. Sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu Tuan, sudah saya usir!

26. Tuan Besar Mellema
Jangan…!(Memberi kode pada Darsam). Darsam beritahu mereka…

27. Darsam
Nyai bilang…Di rumah ini tidak ada orang bernama Sanikem. Pergilah!

Suasana hening. Sastrotomo dan istinya beringsut pergi. Wajahnya penuh duka. Sastrotomo beringsut terus, seperti menapaki nasibnya yang tak berujung.

ADEGAN 4
Orang-orang sedang mengusung karung. Ada juga yang mengusungnya dengan gledekan. Suasana begitu sibuk. Nyai Ontosoroh, Tuan Besar Mellema, Annelise, Robert Mellema, dan Darsam, seperti bersiap-siap hendak mau pergi.

28. Nyai Ontosoroh
Kami harus pindah ke Wonokromo, karena kontrak perusahaan gula tidak memperpanjang jabatan Tuan Besar. Kami pindah ke Surabaya. TB Mellema membeli tanah luas di Wonokromo, penuh semak belukar dan dekat rumpun-rumpun hutan muda. Sapi yang dibeli dari Australia dipindahkan kemari.
Segala yang saya pelajari selama hidup bersama TB Mellema, telah sedikit mengembalikan harga diri saya. Tetapi sikap saya tetap, mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung pada siapapun. Tentu saja sangat berlebihan seorang perempuan Jawa bicara tentang harga diri, apalagi, orang seperti saya yang masih begitu muda untuk berkeluarga.
Begitulah akhirnya saya mengerti, saya tidak tergantung pada TB Mellema. Sebaliknya dia sangat tergantung pada saya. Saya telah bisa mengambil sikap untuk ikut menentukan perkara. Tuan tidak pernah menolak. Bahkan ia sangat memaksa saya untuk terus belajar. Dalam hal ini ia seorang guru yang keras tetapi baik, saya seorang murid yang taat dan juga baik. Saya tahu, apa yang diajarkan oleh TB Mellema kelak akan berguna bagi diri saya dan anak-anak saya, kalau TB pulang ke Nederland.

Para buruh bergerak bersama-sama, mengikuti tuan mereka. Mereka membawa barang-barang pindahan. Darsam berjalan di depan. Musik. Lighting fide out.

selanjutnya»»

DEWA MABUK

Naskah Monolog/Akhudiat

Peran: Seorang Dionisian


Dionisian:
Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Teruskan, mabukkan, pestakan, sukaria, topeng, rumbai-rumbai, musik, tari, nyanyi. Rayakan dewa anggur, kesuburan, dan ramalan. Pesta musim panas, bumi baru, kesuburan setelah membeku. Kemabukan tiada tara. Mari terbang, melayang, jungkir dan balikkan. Tanpa kemabukan bukan lagi teater namanya, dan tak ada lagi hasrat serta manfaat gunanya. Bukanlah cinta tanpa mabuk kepayang-payang, barangkali cuma letup sesaat dan tak sengaja kayak kentut. “Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian,” ujar Chairil Anwar dalam Krawang-Bekasi. Tanpa kemabukan bagaimana bisa bertahan antara realitas dan mimpi?



Kami Dionisian-dionisian setiamu, dalam kemabukan, kerasukan, cinta, dan bermain.
Dengan kemabukan kami rasuki roh-roh dan mainkan mereka, peran-peran, jadi hidup, bertindak, menjalani takdir lakon. Dalam lingkaran tari dan koor “nyanyian kambing” kami sembahkan drama Dionisian, bahkan kami perankan Sang Dewa Mabuk, Dionisos Maha Tuan Asal-muasal Drama. Kami rayakan kambing, pengganti ritus kanibalisme kuno, sesajen sebutir kepala manusia. Drama mengubah ritus darah dan nyawa menjadi seni.
Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Dengan kemabukan dan kesyahidan kami hidupkan Sayidina Husein, cucu kesayangan Nabi, beserta anak-anak, keluarga, dan para pengikutnya, berguguran sehabis perlawanan habis-habisan yang gagah berani dalam Perang Karbala. Kami hidupkan kembali di arena Teater Takziah, “teater dukacita”, selama hari-hari ritual Asyura di bulan Muharam yang suci. Kami nyanyikan penderitaan dan kesyahidan Sayidina Husein bin Ali; perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan dengan keteguhan otoritas moralnya. Juga kami deklamasikan kebrutalan para penindas, pelibas, pembantai, yang otoritasnya tirani berbendera agama. Di tangan tiran agama jadi sektarian, eksklusif, pembenaran ideologi. Agama bukan lagi sirath-al-mustaqim, jalan lempang, jalan pencerdasan, pembebasan, pencerahan. Teater menemukan dan membangkitkan penderitaan/catharsis dan kesyahidan/martyrdom.
Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Kami adalah shaman, pawang, bomoh, dukun, “terkun”, “orang pintar”, “orang tua”, “orang aneh”, orang suci, wali, pendeta, peramal, paranormal, “para tidak normal”, atau terserah sapaan apa saja yang kalian pantas-pantaskan. Dengan kemabukan dan kerasukan dan kesurupan, trance, ekstase, kami tinggalkan tubuh kasar, dan naik ke langit, dunia-atas, berkendara roh kuda atau angsa; berbahasa langit, mempelajari ilmu langit dan mengambil untuk mengajarkannya kepada dan menyembuhkan orang bumi. Memohon Penguasa Dunia Atas agar menerima persembahan, dan mendapat petunjuk beerkenaan cuaca yang akan datang, panen, berburu, dan juga sesajen apa yang dibutuhkan. Atau turun ke dunia-bawah, menemani-membimbing roh ke hunian baru, atau mengambil roh dari kuasa hantu-mambang-danyang. Kami mediator antara dunia nyata dan dunia lain.
Dengan irama pukulan genderang atau rebana di tangan dan hentakan giring-giring di kaki, jenis musik tonal; mantera, doa, dzikir yang berulang-ulang; mengundang mahluk gaib pembantu, berbicara dengan bahasa rahasia, “bahasa hewan”, menirukan jeritan binatang buas, dan kicauan burung. Irama kendang, giring-giring, tari, nyanyi, makin lama makin keras, makin liar, konsentrasi penuh ke dunia lain, kami shaman mencapai kesadaran yang lain.
Kami lakukan perjalanan sangat dramatik ke kraton Penguasa Dunia Bawah; kami perankan dewa-dewa dan tokoh-tokoh lainnya; kami berdialog dengan hantu-mambang-danyang dan hewan serta burung. Dramatisasi tingkat tinggi kehidupan dewa-dewa oleh kami para anggota kultus-misteri. Kami “mulut para dewa”.
Kami hidupkan suara seorang samurai sebagai saksi di pengadilan, bahwa dia dibunuh oleh tertuduh, si perampok, bukan oleh pedang di tangan isterinya sendiri, dalam tragedi Rashomon. Kami pawang dalam tari misteri lais atau sintren; kami mendapuk, memerankan, Besut—mbekto maksut/pembawa tujuan—dalam drama ritual Ludruk Besutan; kami di mulut Gandrung Seblang “mewahyukan” apa yang harus dilaksanakan penduduk pada ritus Seblang di tahun mendatang.
Kami senantiasa mempertahankan kehidupan, kesehatan, kesuburan, dan “dunia terang”; melawan kematian, penyakit, kemandulan, malapetaka, dan “dunia gelap”. “Drama misteri” menyambungkan masa lampau ke masa kini, menelusuri masa kini sampai masa primordial, asal-muasal segala hal.
Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Kami Dionisian-dionisian setiamu, mengalami jatuh-bangun, pasang-surut, sedih dan gembira, bahkan menikmatinya. Tapi kini, aku dalam ketegangan yang menyesakkan, menyebalkan, membosankan, nyaris menjijikkan. Aku melata, mengenaskan, bagai orong-orong dalam gorong-gorong, tersekap di labirin, di hunian mutakhir: ruko. Ukuran: 5X10X10 meter, dua lantai. Lantai bawah tempat usaha dan kerja apa saja, lantai atas ruang tinggal, makan, minum, tidur, masak, macak, manak dan berak.
Aku turun-naik, naik-turun, entah sudah berapa ribuan kali. Mirip ritus komedi-kuda-putar, atau bajing-dalam-kerangkeng-pusing, atau kakatua-dengan-gelang-dan-rantai-panjang-keliling-batang-besi-tempat-hinggap-abadinya. Sudah ribuan meter jalan-lari-terbang masih juga tetap di titik semula.
Aku manusia ruko. Nenek-moyang dulu kala manusia gua, zaman berburu dan meramu; berbicara dengan bahasa uh-uh-uh. Gua rumah kedua, “rumah pertama” di atas pepohonan, tidak bisa tidur nyenyak, sering terkejut, terjaga, dan tidur-tidur ayam, agar tak jatuh ke tanah dimangsa predator. Keterkejutan dan keterjagaan primordial itu tertinggal di otak belakang sampai kini, dan sering muncul dalam mimpi “jatuh dari ketinggian”, baik selonjor di ranjang maupun lantai. Semak belukar adalah perbatasan genting: yang berbalik ke rimba menjadi orang utan, yang turun ke padang rumput menjadi homo-sapien; berladang, bertanam, bertugal, menabur benih, bertegal, bersawah; menjadi manusia pertanian, pedalaman, pedesaan, perkampungan, pinggiran. Ketika migrasi dan tranformasi ke manusia urban terjadi diversifikasi besar-besaran sesuai kelas hunian: dari manusia istana, menara, kondominium sampai manusia kapsul dan kondom.
Manusia kondom bagian dari MT4: Manusia Tanpa Tempat Tinggal Tetap, antara lain, berupa kapsul, ujudnya gerobak, cikar, dokar, sepeda, becak, atau bermotor, cukup dilembari gombal atau karton, gampang bongkar-pasang-pindah. Yang berbentuk kurungan tegak menonjol atau rebah ke samping, sama sekali tertutup plastik putih, mirip kondom gede.
Dan meledak Revolusi Abu-abu.
O Dewa Mabuk!
Sang pemimpin, pra-revolusi dedengkot demokrasi, pasca-revolusi tersibak watak asli, gila sanjungan dan otoriter, campuran kekanakan, kelatahan dan kepala batu. Di masa kanak, dia digendong, dikudang, digadang-gadang, ditimang-timang kakeknya dengan senandung sindiran, setengah ramalan: Putu, putu, abote koyo watu—gede-gede mbentuki watu. Cucuku, cucuku, bobotnya seberat batu—besar nanti menimpuki dengan batu. Dia canangkan dan terapkan trilogi yang dialektis-dinamis-romantis-nostalgis: TRISAMARA—sama-rasa, sama-rata-sama-ragam. Di sektor hunian, segala gedung, segala pencakar langit, segala perumahan, segala gubuk, di-retool: didinamit, dirontokkan, dihancur-leburkan, diratakan sepermukaan bumi asal, dan diperintahkan bagi setiap keluarga inti dua lantai ruko. Pembangunan ruko besar-besaran oleh pabrik ruko-prefab/bongkar-pasang. Pembangunan semesta rencana revolusioner yang diiringi semangat lagu lama lirik plesetan: Dari barat sampai ke timur berjajar ruko-ruko, sambung-menyambung menjadi satu itulah Republik Ruko… Aku manusia ruko, saksi akhir sejarah arsitektur.
Wajah bumi berubah total. Tidak ada lagi keaslian lama atau alami. Pedesaan, perkotaan, pedalaman, pesisiran, bantaran sungai, hutan, huma, gunung, sabana, semak belukar, kebun kangkung, lahan tidur, padang gambut, pulau kosong, delta gosong; semua dikepung, dijalari, dijajari, digantungi, ditumpuki, digudangi, atau dipersiapkan bagi karya arsitektur agung mutakhir: ruko.
Saat bangun pagi, saat belum siap buka mata benar-benar, selalu rona melankolis di langit timur dan pikiran sepi sendiri sepanjang malam, aku berada di ruko sendiri, atau mungkin juga ruko tetangga, asrama, gardu jaga, rumah sakit, penjara, penampungan sementara, kontrakan abadi, guest-house, hotel, motel, losmen, luar kota, kota lain, ibukota, pulau sini, pulau seberang, atau ruko trailer ditarik truk yang bisa kembara ke mana-mana. Tidak ada bedanya. Ranjang standar, kamar standar, hunian rakitan. Keunikan dan kekhasan milik masalalu. Aku mengais-ais remah-remahnya.
Pergi, masuk, keluar, pulang, ngendon, ngendok, andok, minggat, menghindar, terlantar, bertualang, menjauh, mendekat, bahkan menghilang sekalipun: dalam sekapan ruko. Mereka tidak hilang, mungkin hanya tersesat, terlalu jauh atau lama di luar ruko sendiri, tak bisa pulang kandang, selalu keliru masuk alamat lain. Semua ruko sama dan serupa. Harus ingat betul peta, letak, kawasan, wilayah, susunan, kelompok, ruang, sektor, nomor. Ruko kehilangan penghuni, bukan penghuni kehilangan ruko, tapi kehilangan akal.
Aktivitas apa pun: transaksi, negosiasi, janji, kencan, selingkuh, tatap muka, inisiasi, jual-beli-sewa, belanja, ngutil, memborong, memboyong, gotong-royong, tanggung-renteng, menalangi, ngebosi, bersaing, saling-silang, sidang, debat, silat, arisan, ngrumpi, ngantri, pemilu, kampanye; kebaktian, meditasi, pengajian, salat jamaah, pengakuan dosa, retret, i’tikaf, misa; kuliah, sekolah, pacaran, bolos, coblosan, tawuran, keluyuran, cangkruk, tenguk-tenguk, mabuk, flai, nyetun; mandi kembang, mandi susu, mandi kucing, bobok-bobok siang, obok-obok malam, ngamar, “karaoke”, mandi kuyup sekalian ketimbang cincang-cincing, mandi keris setahun sekali, mandi ruwatan, mandi mayat; hidup, sakit, koma, failit, bangkrut, dipenjara, diamankan, “dipinjam instansi lain”, dipermak, dihilangkan, dipancung, digantung, dihukum mati tak pernah dieksekusi, dikremasi; segalanya dicukupi oleh Departemen Ruko. Baju adalah kulit kedua, ruko adalah langit kedua, pengayom dan pengendali apa-dan-siapa saja.
O Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Aku melata, menelengkan kuping, menempelkan, mencari, menanggap, menangkap, menyabet udara, meraih-raih suara/bunyi gres, baru, yang tidak baku. Kutunggu, tak terdengar apa pun, sunyi, lama sekali, hampa. Kebisuan itu menggantung, memadat, serasa akan menyedot atau menimpaku. Segera kubuka jendela dan seperti rangkaian kereta dan gerbong…lebih sejuta jendela terdengar buka dan bunyi menggerendeng serempak bersama!
Setiap hari, bunyi/suara serentak-segerak, setajam-sepelan, sepanjang- sependek, selengking-seinterval, senada-se-staccato, sesepele-semelompong, segema-segemuruh, seruang-sewaktu: merongrong/menindih/menghisapku. Gedoran dinding, getaran kaca, kreotan ranjang, helaan napas, igauan tidur, gemertak gigi-gerigi, sendawa, tapakan kaki naik-turun tangga, tepuk nyamuk, tabokan, tempelengan, siulan mulut, nyanyi kamarmandi, kepakan sayap, meong kucing, cicit tikus, cericit burung, dentingan piring, tarikan kursi, gemerincing kunci, sobekan kertas, goresan/klik korek api, geseran buah catur, krobokan cairan, kibasan handuk, kucuran kencing. Buka-tutup pintu WC, ngejan dan lepas, telepok berak dan grujukan air; bahkan bentuk-rupa-bau tai pun sepadan-serupa. Berkat standarisasi teknologi “ma-min”, makanan-minuman, mutakhir: pentolan bakso.
Bakso, adalah akhir sejarah gastronomi atau seni makan-memakan, diawali oleh diversifikasi ma-min instant. Segalanya serba instan: dari mi, nasi, santan, susu, krim, buah, sampai sari buah, air mineral, kolak, degan kopyor, gudeg, gado-gado, rendang, empek-pek, botok, nyamikan, kudapan, snack dan tiwul serta jajanan pasar lainnya. Departemen Gastronomi perintah hanya boleh satu bentuk dan warna ma-min, maka terciptalah kemasan pentolan daging dan bukan daging, mulai ukuran gotri, kelereng, bola bekel, golf, kasti, tenis, sepak raga/tekong, sampai boling dan basket. Berisi segala jenis ma-min serba instan, dibikin di pabrik besar Departemen dan dipasok ke seluruh Republik dengan armada truk katering. Republik pun bertambah julukannya dan menjadi setengah resmi: Republik Ruko & Bakso. Sempurna dan lengkap sudah, samarasa-samarata-samaragam merasuk hingga rinci-rinci dan inti prikehidupan. Mimpi pun mulai dibakukan dengan “paket stimulan”, hasil litbang obat dan jamu, Departemen Sehat dan Waras.
O Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Aku dalam ketegangan yang menyesakkan, menyebalkan, membosankan, nyaris menjijikkan. Melata, mengenaskan, bagai tikus eksperimen di labirin laboratorium. Jalan, lari, ketabrak dinding, mundur, berputar, berhenti, jalan, berbalik, lari-lari, ketubruk lorong buntu, mundur, mengendap-endap, berbelok, loncat ke ujung lorong lain, rebut hadiah bakso…
O Dewa Mabuk,
Aku mengangankan, melesat ke awang-awang, berkendara roh puisi Sultan Walad, putra Sufi Agung Jalaluddin Rumi:
Kata-kata adalah tangga ke langit
Sesiapa menaikinya ke atap ia sampai
Bukan langit biru atap itu
Tapi atap di balik segala langit dunia
Glodak! Kubuka pintu WC, dan sejuta lebih pintu WC bergelodak, buka-tutup-telepok-grojok serentak! Masih kupegangi pintu, aku berdiri di ambang, tidak masuk dan tutup, hanya mendengar-nikmati gemuruh sejuta lebih pintu dan lubang tai bernyanyi koor pagi buta. Aku setengah ngantuk, kemulan sarung, bungkus tidur antik kawasan tropik, tanpa baju dan celana. WC duduk itu kering dan masih rapi terbungkus kertas cap dagang hotel. Aku baru sadar, sedang bermalam di hotel, urusan kondangan di sebuah kota—kecil atau besar apa pula bedanya?—pantai utara. Ternyata agak berbeda. Pantai di seberang jalan masih tetap pesisir landai, tanpa ditanami serial ruko-ruko, hanya ditancapi papan pengumuman besar tulisan merah: DILARANG BERAK. Sebelum Revolusi pantai utara WC terpanjang sedunia, masuk buku “Rekor Sejagat-Rat”, penerbit pabrik ciu gambar manuk.
Timbul iseng semasa usia pancaroba, mengusili barang atau tempat atau milik umum yang baru. Kaca mobil atau etalase toko kucorat-coret dengan kata-kata cabul, atau di gedung pencakar langit kupilih lantai puncak, kuludahi westafel, kukencingi urinoir, kuberaki WC wangi, dengan memandangi awan-gemawan, seperti burung terbang sambil crat-cret-crot mengecat udara dan bumi.
Setengah ngantuk, kemulan sarung, aku keluar hotel, tanpa toleh kanan-kiri lari menyeberangi jalan, sarung berkibar-kibar, niat memberaki Dilarang Berak…
Entah dari kanan entah kiri, truk besar panjang menanduk, aku terpental, jatuh terkapar di aspal, telanjang bulat. Sarung terbang, tersangkut truk, menutupi kaca depan, sopir kaget, tak bisa lihat jalan, oleng, menabrak tanggul pantai, terguling. Pintu belakang trailer ma-min terbuka, kaldu dan ribuan bola-bola bakso tumpah dan banjir ke jalan, bergelindingan, berenang, berlomba, berkejaran. Bagai tarikan magnet bola-bola daging dan bukan daging mengerubuti dan menempeli tubuhku. Daging ketemu daging tumbuh daging ketemu daging tumbuh… Mengerubuti ujung kaki sampai ubun-ubun seperti serbuan ikan piranha.
Ujung-ujung jari kaki dan tangan ditumbuhi pentilan-pentilan ukuran gotri; kedua ketiak disangga pentolan boling sehingga dua tangan terangkat siap terbang. Kedua lutut ditamengi petolan tenis; kantong pelir ditempeli dua pentolan bekel seperti sepasang roda, menyangga batang zakar tegak seperti meriam mini penangkis serangan udara, di ujungnya pentolan kelereng mirip peluru. Persis di pusar pentolan golf pada posisi tee, untuk pukulan pertama. Tiga pentolan mirip “bola raga dari rotan” di bidang dada sebagai perisai, atau “tiga buah dada perempuan Mars”. Garis mulut didereti pentolan kelereng mirip untaian gigi-gerigi, dari telinga ke telinga. Kedua telinga tambah melebar oleh sepasang pentolan basket. Hidung lebih akbar ketimbang Pinokio karena dipanjangkan pentolan tenis+bekel+kelereng +gotri. Pada dahi dua pentolan tenis plus jadi sepasang tanduk Viking. Rambut lebih gimbal ketimbang megabintang Reggae karena segala pentolan segala ukuran melekat-rekat, memilin-plintir, dikeramas kaldu daging, berlemak-peak.
Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos,
Di pagi sedang merekah, Dionisian setiamu mempersembahkan instalasi, “Manusia Baru”, pada latar baru, kanvas aspal.

Surabaya, 2008

selanjutnya»»

Masalah Naskah Teater di Jawa Timur


Oleh : R Giryadi

Jawa Timur, mengalami kelangkaan naskah teater. Sejak periode tahun 1970-an, periode Akhudiat, penerbitan naskah teater baru terjadi satu kali. Pada tahun 2001 lalu Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menerbitkan Tiga Kitab Lakon dari Jawa Timur, yang hanya memuat tiga naskah antara lain, Jaka Tarub (Akhudiat), Sang Tokoh (Anas Yusuf), dan Kuman (Meimura). Namun penerbitan ini juga tidak mampu menjawab kelangkaan naskah di Jawa Timur.


Kelangkaan naskah teater bisa jadi disebabkan oleh kesalah pahaman, bahwa naskah teater semata-mata urusan sastra an sich. Begitu juga sebaliknya, sastrawan juga menganggap naskah teater semata-mata hanya urusan teater an sich. Karena itu jarang sekali para sastrawan kita menulis naskah teater. Apalagi sang teatrawan.
Selain itu tidak banyak pemimpin teater, sutradara teater di Jawa Timur, tidak memiliki latar belakang (menulis) sastra. Sementara kita tahu Akhudiat, adalah seorang sastrawan, Anas Yusuf seorang penyair nasional dari Madiun.
Hal ini memang tidak bisa dipermasalahkan. Karena kenyataannya, bila dibandingkan dengan produksi prosa, karya naskah teater yang bisa digolongkan dalam prosa ini, sangat minim. Boen Sri Omariati (1971) mengatakan bahwa sastra di Indonesia hanya baru menghasilkan penyair, novelis dan cerpenis. Sementara penulis naskah teater belum ada. Secara kuantitatif, dalam buku ‘Horison Sastra Indonesia’ (2001) terbitan majalah Horison, mencatat 110 orang penyair, 82 novelis, 71 cerpenis dan hanya 27 orang saja dramawan.
Ini artinya secara jumlah, penulis naskah teater sangat tertinggal jauh dengan penulis sastra lainnya. Tentu memang, persoalannya bukan hanya pada jumlah, namun minat untuk menulis naskah teater di kalangan para pengiat teater sendiri sangat rendah.
Tidak banyaknya penulis yang menekuni naskah drama, agaknya juga disebabkan oleh belum lakunya naskah teater di pasar perbukuan. Lemahnya bangunan pasar ini menyebabkan banyak sastrawan dan teatrawan malas menerbitkan naskah-naskah teaternya.
Faktor lain yang menjadi penyebab adalah belum tingginya frekuensi pementasan grup-grup teater. Hal ini masih ditambah dengan belum mentradisinya masyarakat untuk membaca naskah lakon sebagaimana membaca karya berbentuk prosa lainnya.
Menurut Jakob Sumardjo (1992), kuatnya tradisi teater tradisional Indonesia yang tidak mengenal naskah drama menjadi salah satu penyebab kurang dikenalnya drama sebagai teks (sastra), kecuali sebatas pertunjukan semata. Akibatnya, minat masyarakat untuk membaca naskah drama sangatlah kurang sehingga penerbit harus berpikir untuk mencetak naskah teater.
Situasai yang seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi bila disadari keterkaitan antara sastra dan teater. Bahwa antara sastra dan teater disatukan dalam kerangka yang lebih luas yaitu drama. Dalam konteks ini, drama juga memiliki pengertian sebagai teater atau performance, dan drama juga terkandung pengertian karangan berbentuk prosa atau puisi yang direncanakan bagi pertunjukan teater. Bukankah, ada pula drama yang ditulis sebagai bahan bacaan, bukan untuk produksi panggung?.
Situasi krisis naskah, pada zaman keemasan teater tahun 1970-an, justru menjadi pendorong munculnya naskah-naskah lakon yang ditulis oleh para sutradara/pimpinan teater. Pada periode ini, produksi teater sama dengan memproduksi naskah-naskah yang ditulis oleh sang sutradara yang juga bertidak sebagai pimpinan teater.
Kita mengenal para penulis seperti Rendra (Bengkel Teater), Putu Wijaya (Teater Mandiri), Arifin C.Noer (Teater Kecil), Ikranagara (Teater Saja), Nano Riantiarno (Teater Koma), Heru Kesawamurti (Teater Gandrik), Bambang Widoyo Sp (Teater Gapit).
Di Jawa Timur (sekedar menyebut nama) kita mengenal, Basuki Rachmat, Akhudiat, Lutfi Rachman, Anang Hanani, Monor Koeswandono, Harjono WS, Emil Sanosa, dll.
Namun periode tradisi penulisan naskah di Jawa Timur tidak berlangsung lama. Atau tidak mentradisi sampai sekarang. Karena, setelah periode itu, teater di Jawa Timur lebih banyak didominasi oleh teater yang ‘anti naskah’ atau ‘anti sastra’.
Kalaupun ada naskah hanya menjadi kerangka pertunjukan saja. Hal ini bisa kita lihat pada naskah-naskah karya Brewok AS (Sanggar Suroboyo), Meimura (Teater Ragil), Julfikar M Yunus (Teater Jaguar), Dody Yan Masfa (Teater Tobong). Naskah teater mereka, sekaligus untuk menegaskan konsep teaternya yang anti plot, anti alur, bahkan anti tokoh. Maka dalam pertunjukannya kita hanya melihat rangkaian situasi.
Pilihan penulisan naskah seperti ini memang cukup beralasan. Hal ini terkait dengan konsep teater mereka yang lebih mengedepankan narasi dan daya ungkap artistik tubuh, daripada mengatur plot, alur, dan perwatakan yang terstruktur sesuai dengan dramaturgi. Fenomena tubuh dalam dunia teater di Jawa Timur sudah menggejala sejak tahun 1990-an. Teater telah mengubah teks naskah yang diperankan dari teks yang dibaca, menjadi teks yang dinyatakan. Teater mengubah pembaca, menjadi penonton, perubahan ini sangat radikal. Di Surabaya, Teater Api Indonesia (Bambang Ginting, alm) menjadi pintu masuk aliran teater tubuh, yang sebelumnya banyak dikenalkan oleh Teater SAE (Jakarta) dengan tokohnya Afrizal Malna dan Budi S Otong.
Gejala ini terus berlanjut hingga kini. Seiring dengan konsep teater tubuh, kesadaran menulis naskah teater merupakan bagian kegiatan bersastra kurang banyak dilakukan. Bahkan penerbitanpun, hingga kini sangat minim sekali atau boleh dikatakan tidak ada. Banyak kelompok teater yang cenderung menggarap naskah-naskah babon (milik penulis ternama), yang sudah terlalu sering dipentaskan, bahkan tidak kontekstual sekali dengan kondisi saat ini.
Sejak puluhan tahun lalu, akting teater kita lebih banyak memerankan manusia Barat. Kita tidak pernah menyadari, bahwa hal itu karena langkanya naskah. Indonesia memiliki sekitar 400 naskah teater yang sebagian adalah naskah saduran dari Barat. Sementara naskah asing yang telah diterjemahkan dan sebagian besar sangat populer berjumlah sekitar 154 naskah teater dari pengarang-pengarang terkenal. Naskah-naskah ini sampai kini masih menjadi referensi para penggiat teater.
Hematnya, langkah awal untuk membangun kembali gairah pertumbuhan naskah teater di Jawa Timur, menurut saya dengan memunculkan kembali naskah-naskah teater baru yang memiliki élan vital Jawa Timur-an. Dan upaya mewujudkan itu bisa melalui ajang lomba penulisan naskah teater atau juga lewat pendokumentasian naskah-naskah dari seniman teater di Jawa Timur. Namun semua itu tidak akan berarti kalau para penggiat teater tidak segera menyadari persoalan ini. ***

Penulis adalah Ketua Komite Teater DKJT

selanjutnya»»

Jumat, 13 Februari 2009

SEJARAH BLOG



(Bagian 1)
Blog pertama kemungkinan besar adalah halaman What’s New pada browser Mosaic yang dibuat oleh Marc Andersen pada tahun 1993. Kalau kita masih ingat, Mosaic adalah browser pertama sebelum adanya Internet Explorer bahkan sebelum Nestcape. Kemudian pada Januari 1994 Justin Hall memulai website pribadinya Justin’s Home Page yang kemudian berubah menjadi Links from the Underground yang mungkin dapat disebut sebagai Blog pertama seperti yang kita kenal sekarang.
Hingga pada tahun 1998, jumlah Blog yang ada diluar sana belumlah seberapa. Hal ini disebabkan karena saat itu diperlukan keahlian dan pengetahuan khusus tentang pembuatan website, HTML, dan web hosting untuk membuat Blog, sehingga hanya mereka yang berkecimpung di bidang Internet, System Administrator atau Web Designer yang kemudian pada waktu luangnya menciptakan Blog-Blog mereka sendiri. Pada Agustus 1999 sebuah perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab meluncurkan layanan
Blogger.com yang memungkinkan siapapun dengan pengetahuan dasar tentang HTML dapat menciptakan Blog-nya sendiri secara online dan gratis. Walaupun sebelum itu (Juli 1999) layanan membuat Blog online dan gratis yaitu Pitas telah ada dan telah membuat Blogger bertambah hingga ratusan, tapi jumlah Blog tidak pernah bertambah banyak begitu rupa sehingga Blogger.com muncul di dunia per-blog-an. Blogger.com sendiri saat ini telah memiliki hingga 100.000 Blogger yang menggunakan layanan mereka dengan pertumbuhan jumlah sekitar 20% per bulan. Blogger.com dan Pitas tentu tidak sendirian, layanan pembuat blog online diberikan pula oleh Grouksoup, Edit this Page dan juga Velocinews.


Sejak saat itu Blog kian hari kian bertambah hingga makin sulit untuk mengikutinya. Eatonweb Portal adalah salah satu daftar Blog terlengkap yang kini ada diantara daftar Blog lainnya. Ribuan Blog kemudian bermunculan dan masing-masing memilih topik bahasannya sendiri, dimulai dari bagaimana menjadi orang tua yang baik, hobi menonton film, topik politik, kesehatan, sex, olahraga, buku komik dan macam-macam lagi. Bahkan Blogger ada Blog tentang barang-barang aneh yang dijual di situs lelang Ebay yang bernama Who Would By That?. Cameron Barret menulis pada Blog-nya essay berjudul Anatomy of a Weblog yang menerangkan tema dari Blog. “Blog seringkali sangat terfokus pada sebuah subjek unik yaitu sebuah topik dasar dan/atau sebuah konsep yang menyatukan tema-tema dalam Blog tersebut.” Secara sederhana topik sebuah Blog adalah daerah kekuasan si Blogger-nya tanpa ada editor atau boss yang ikut campur, tema segila apapun biasanya dapat kita temukan sejalan dengan makin bermunculannya Blog di Internet. Dan ya, ide itu telah terpikirkan, Blogger bahkan sekarang telah membuat Blog dari Blog, dan bahkan Blog dari Blog dari Blog.
Dari sedemikian banyak Blog yang ada, Blog-Blog yang menetapkan standar dari Blog dan terkenal sehingga memiliki penggemarnya sendiri diantaranya adalah Blog milik Jorn Barger, Robot Wisdom yang disebut-sebut merupakan Blog terbesar dan paling berguna dimana dia setiap harinya menyodorkan sekian banyak link yang dibentuk dari ketertarikannya pada seni dan teknologi. Camworld adalah Blog populer milik Cameron Barret seorang Desainer Interaktif dimana dia mengkatagorikan topik-topik Blog-nya pada katagori, Random Thoughts, Web Design dan New Media. Camworld dapat disebut sebagai Blog klasik dalam arti Blog tersebut mengandung dosis tepat dari karakter dan opini pribadi dicampur dengan keselektifan pemilihan link-nya. (bersambung)

selanjutnya»»

Para Peletak Dasar Teater Modern


Oleh : Rakhmat Giryadi

Pada suatu ketika kelas borjuasi tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan; mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir seperti yang terjadi dalam teater Elizabethan, yang hanya menampilkan wajah kerajaan.
Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Realisme bangkit seiring dengan tumbuh dan berkembang kelas, burjuis di Eropa. Realisme dianggap tonggak kebangkitan teater modern seiring dengan bangkitnya Renaesan, dunia perdaganganpun di Eropa mulai maju. Perlahan-lahan pengaruh dan kekuasan berpindah dari golongan aristokrat pemilik tanah dan pedagang.


Kebangkitan kelas burjuasi merupakan salah satu sebab yang mendukung munculnya realisme. Ada juga kekuatan lain yaitu perkembangan Ilmu pengetahuan. Teori evolusi Darwin, Positivisme Auguste Comnte, serta teori-teori psikologi Freud dan masalah-masalah sosial yang menentang pendekatan secara ilmiah, menimbulkan suatu cara pandang yang khas pada kehidupan.
Dinyatakan oleh Kernodle bahwa realisme menyajikan gagasan untuk menampilkan suatu bagian dari kehidupan. Di atas panggung akan terbayang sepotong kehidupan, sehingga jagad panggung merupakan penyajian kembali kehidupan indrawi. Secara teknis pementasan di atas panggung diusahakan menggambarkan kehidupan sering mungkin. Pentas dan perlengkapan panggung menggambarkan ruang duduk suatu keluarga, atau ruang kantor dan ruang lain yang paling umum dilihat oleh penonton.
Selain properties, setting dan kostum yang secara pasti berkorespondensi dengan realita, realisme konvensional juga menolak gaya akting yang berlebihan. Pencetus utama untuk gaya berperan realis adalah Konstantin Sergeyevich Stanislavsky (1865-1938). Stanislavsky menekankan arti penting gaya berperan yang wajar, tidak dibuat-buat dan menolak gaya bicara deklamatoris. Dasar dari pemeranan ini mengungkapkan tingkah laku manusia sesuai dengan penernuan-penernuan di bidang psikologi.
Pendekatan pemeranan Stanislavsky dengan metode psikologi sangat sesuai untuk menganalisa tokoh-tokoh yang diciptakan dalam lakon realisme. Tokoh-tokoh dalam drama ini hadir sebagai individu-individu yang ada dalam keseharian dengan karakter penuh kontradiksi.
Teater realisme sifatnya sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat.
Gambaran obyektif tentang dunia, kecenderungan menempatkan kedudukan individu pada tempat yang sangat dominan serta kecenderungan memandang hakikat drama sebagai konflik telah menggerakkan suatu proses konvensionalisasi terhadap para penata panggung (stage, propertys dansebagainya), gaya berperan dan cara menulis naskah, proses konvensionalisasi ini mencapai kemapanannya pada pertengahan akhir abad XIX, melalui tokoh-tokoh seperti Ibsen, Chekov dan Stanislavsky (Ferguson, 1956).
Awal abad XX terjadi perkembangan baru dalam kehidupan teater di Eropa. Tokoh seperti Brecht, Antonin Artaud menolak aliran realisme. Aliran realisme tidak sepenuhnya diterima dalam abad XX Pemberontakan terhadap realisme timbul, antara lain oleh Symbolisme, Ekspresionisme dan Teater Epik. Konsepsi seni aliran di atas menentang realisme konvensional secara mendesar. Kaum symbolis beranggapan bahwa intuisi meruapakan dasar yang tepat untuk memahami realitas.
Teater epik, meski dipertimbangkan sebagai gaya yang memberontak realisme, namun bentuk dramanya jika dicermati justru memperluas konsep realisme. Pemrakarsa teater epik ialah Bertolt Brecht (1898-1956). la mulai aktif dalam teater ketika Jerman tengah berada dalam puncak jaman ekspresionisme.
Pandangan Brecht pada fenomena sosial tidak bisa dipisah-kan dari sikap ideologinya sebagai penganut Marxisme. Brecht adalah seorang pengecam kapitalisme. Seperti telah dipaparkan di atas, realisme konvensional di antaranya tumbuh dan berkembang berkat pertumbuhan dan perkembangan masyarakat burjuasi. Sementara Brecht sebagai seorang Marxis beranggapan bahwa kelas pekerja membutuhkan gaya teater yang lain, yaitu yang menyampaikan pesan-pesan yang politis.
Tokoh ekspresionime, Antonin Artaud menekankan drama pada tubuh. Dalam persepsi Artaud, tubuh merupakan instrumen yang liar namun memiliki sifat yang fleksibel yang tetap berada dalam prises untuk ditempa. Tubuh manusia tersebut memendam derita perampokan-perampokan jahat yang dilakukan oleh masyarakat, keluarga, dan agama yang membiarkannya dalam keselitan dan sia-sia yang melancarkannya menunuju titik suatu terminal tanpa koherensi dan tanpa kemampuan untuk berekspresi.
Hidup dan karya Artaud mempertanyakan peran tubuh yang terpecah-pecah tetapi dapat berubah bentuk, dalam kesenian, kesusastraan dan pertunjukan. Artaud menyebut proyeknya ini sebagai Theatre of Cruelty (Teater Kejam).
Keguncangan teater modern terjadi tahun 1957, ketika Samuel Beckett mementaskan drama Waiting For Godot. Drama ini dianggap membingungkan dan sulit dicerna bahkan oleh penbonton drama yang canggih sekalipun. Namun pendapat itu kemudian dimentahkan Martin Esslin, bahwa drama yang sebelumnya dianggap nonsense itu ternyata mempunyai makna dan dapat dimengerti.
Oleh Esslin, karya-karya drama Samuel Beckett, Eugene Ionesco, Arthur Adamov dan harold Pinter dikatagorikan sebagai drama absurd (the Theatre of The Absurd). Masing-masing dramawan menurut Esslin, merupakan individu yang menganggap dirinya orang luar yang sendiriran, terisolasi dalam dunia pribadinya sehingga mereka mencoba menampilkan realitas subjektif dunia pribadinya.
Visi darmawan absurd sejalan dengan visi kelompok penulis modernisme. Aliran modernisme timbul sebagai rekasi atas alairan realisema (1830-1880) yang dianggap terlarlu sarat dengan kritik sosial dan persan moralnya. Drma Absurd pada umumnya menohok penontonya dengan hal-hal yang membingunghkan. Drama absurd pun penung dengan serangkaian kejadian tidak masuk akal yang melawan konvensi panggung uang sudah di tetapkan. Oleh sebab itu Esslin kemudan menyebutnya drama absurd sebagai drama yang anti-play.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama drama absurd yang lahir di Perancis berkembang ke seluruh penjuru dunia, antarlain Finlandia, Jepang, Norwegia, Argentina, dan juga Indonesia. Tokoh drama ini seperti Beckett, Ionesco, Edward Albee.

selanjutnya»»

Ketika Burung Garuda Menjadi Emprit


Teater Dinasti


"Sepinya hati Garuda. Dijunjung tanpa jiwa.Menjadi hiasan maya. Oleh hati yang hampa.Dendam tanpa kata.Mendalam luka Garuda.Disayangi tanpa cinta. Dipuja tapi dihina"

Itulah sepenggal lagu karya Emha Ainun Nadjib, yang akan dilantunkan oleh Novia Kolopaking dan 6 pemain anak-anak untuk mengawali pertunjukan ‘Tikungan Iblis’ Teater Dinasti Yogyakarta, malam ini. Enam anak-anak itu menanyakan arti pertunjukan teater. Dengan sabar Novia menerangkan arti teater dan drama.
Saat Novia bercerita, pertunjukan teater pun dimulai. Pertunjukan itu dibuka dengan tari remo jugag (sepenggal) dan disusul barisan rampokan (bala tentara) yang bersliweran di atas panggung. Sementara itu dua saudara Khabal dan Khabil, sedang berkelahi. Namun sesaat kemudian mereka berdamai. Tetapi, perdamaian itu berlangsung sesaat, saat lengah, Khabal dibunuh Khabil dengan batu bersar. Gegerlah para malaekat di akherat.


Setelah pembunuhan itu, muncul para malaekat yang menyesal melihat kejadian itu. Sementara Iblis yang berdiri disisi lain, meledek dengan berbagai celetukan. “Malaekat kok menyesal,” celetuk Iblis.
Memang, pertunjukan yang akan dimulai tepat pukul 20.00 WIB itu bakal dipenuhi dengan celetukan-celetukan segar. Celetukan itu datang dari Iblis atau Smarabhumi (Joko Kamto) yang merasa dikambing hitamkan atas kerusakan sosial yang sedang berlangsung.
Iblis itu tidak sangar layaknya gambaran iblis selama ini. Ketika turun ke bumi ia macak layaknya turis, memakai kaca mata hitam, mencangklong kamera, dan menenteng tas koper. Iblis pulalah yang menebarkan kehebohan di bumi (Indonesia). Ia datang sebagai tamu agung, dengan membawa burung garuda sebagai hadiah kepada Prawiro (Joko Kamto).Namun betapa marahnya Prawiro, karena yang dimaksud garuda ternyata hanya burung emprit di dalam sangkar. “Ini penghinaan!” teriak Prawiro.
Konflik semakin memuncak ketika Iblis protes kepada manusia yang menuduh dirinyalah yang menyebabkan rusaknya moral masyarakat. Tetapi manusia sudah terkadung percaya dengan cerita-cerita, bahwa kejahatan manusia akibat dari bisikan Iblis. Makanya mereka hanya tertawa ketika Iblis protes.
“Sampeyan jangan guyon. Masak nama sampeyan Iblis? Mungkin sampeyan manusia yang bernama Iblis begitu,” tanya salah satu penduduk.
“Tidak sayalah Iblis. Karena Tuhan hanya menciptkan Iblis hanya satu!” seru Iblis.
Dialog-dialog di atas bakal terjadi di pentas nanti malam. Toto Rahardjo salah satu kontributor pertunjukan ini, mengungkapkan, pertunjukan Tikungan Iblis, merupakan respon kepada berbagai situasi yang sedang melanda negeri ini. Tetapi lebih utamanya, pemantasan Tikungan Iblis untuk mengajak manusia merenungkan kembali eksistensinya. “Sasaran utama kita adalah manusia. Kita sedang mengalami degradasi kemanusiaan,” kata Toto, Selasa (18/11).
Ditambahkan Toto bangsa Indonesia telah mengalami degradasi nilai-nilai secara eksistensial dan dignity (martabat) dari bangsa yang dicitrakan sebagai burung Garuda menjadi burung emprit. Tesis itu dituangkan dalam narasi yang mengisahkan perjalanan eksistensial manusia dari awal penciptaan manusia Adam hingga umat manusia berkembang biak dan membangun peradaban. “Hidup manusia hanya berkisar dari tiga kata kunci, yaitu rakus, merusak bumi, dan saling berbunuhan,” kata Toto.
“Lakon ini menginspirasi kita bahwa masih ada peluang bagi bangsa ini untuk menjadi kelas bangsa Burung Garuda yang memiliki martabat, kewibawaan, kemuliaan, dan kebesaran, bukan hanya menjadi bangsa kelas emprit yang tidak diperhitungkan bangsa-bangsa lain,” tambah Toto.
Sementara itu, berbicara proses pembuatan naskah, Toto memaparkan, proses pembuatan naskah Tikungan Iblis itu dari hasil dialog antara Emha Ainun Nadjib, Indra Tranggono, Simon Hate, Toto Rahardjo, dan Fauji Ridjal. Proses pembuatan naskah seiring dengan proses latihan yang dikomandani Jujuk Prabowo dan Fajar Suharno. “Makanya hingga saat ini naskah terus berkembang,” katanya.
Sementara itu, pertunjukan itu sendiri akan dipenuhi berbagai unsur seni. Berbagai media seni seperti, tari, musik, seni rupa, video, animasi akan mewarnai seluruh pertunjukan yang berdurasi 2,5 jam. Tidak kalah pentingnya, pertunjukan juga diperkuat oleh garapan musik Bobiet Santoso dari Kiai Kanjeng.
Pertunjukan ini menurut Novia Kolopaking dipersiapkan selama empat bulan lebih. Ketika digelar di Taman Budaya Yogyakarta, 28 Agustus lalu, Tikungan Iblis mampu memukau lebih dari 2000 penonton. “Namun di Surabaya kita melakukan perubahan. Seperti masuknya tari remo, dan juga muncul tokoh baru, Laserta,” kata istri Emha Ainun Nadjib ini.
Sementara itu Farid Syamlan ketua Bengkel Muda Surabaya (BMS) mengatakan tiket yang disediakan terjual habis, baik kelas vip (Rp 100 ribu) maupun lesehan ( Rp 50 ribu). “Antusias penonton luar biasa. Kita sudah kehabisan tiket. Bahkan ada penonton yang memesan tempat untuk ayahnya yang terkena stroke,” kata Farid. n gir

selanjutnya»»

Dari ‘Festival Panggung Realis’

Mencari Teater Realis rasa Madura

Konsep teater realis belum banyak dipahami. Meski demikian Sanggar Lentera STKIP Sumenep menggelar festival teater bergenre realis.

Serangkaian dengan Pekan Seni Madura, pada 30 Desember lalu, Sanggar Lentera STKIP PGRI Sumenep, mengadakan Festival ‘Panggung Teater Realis’ se Madura. Sebanyak 20 peserta mengikuti festival ini. Panitia memberikan arahan, setiap peserta wajib menampilkan lakon drama realis dengan basik tradisi. Setiap peserta hanya diberi waktu 30 menit lengkap dengan penataan setting dan lightingya.
Hasilnya dapat ditebak, dari 20 peserta tak satupun yang bisa secara total memainkan drama realis. Bahkan hampir semua peserta tidak memainkan drama yang bergenre realis. Hal ini bukan tanpa sebab. Sebab utamanya adalah minimnya informasi tentang konsep drama realis. Sebab ke dua teater di Madura tidak memiliki tradisi realisme seperti di Barat, tempat kelahiran genre drama realis.


Memang, realisme didalam konsep teater Barat tidak terlepas dari dinamika sejarah kebudayaan (filsafat) Barat. Di Inggris, drama realis tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Inggris pada abad XII yang dimotori kelas borjuasi.
Di dalam dunia teater, pada suatu ketika kelas borjuasi yang sudah mapan secara ekonomi dan politik, tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan, seperti yang terjadi masa Elizabethan. Mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir.
Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Daya lain yakni Ilmu Pengetahuan: teori Evolusi Darwin, teori psikologi sebelum Sigmund Freud, maupun masalah-masalah sosial yang menantang pendekatan ilmiah pada masa-masa itu mendorong tumbuhnya suatu sikap dan cara memandang kehidupan secara khas.
Sikap dan pandangan ini secara tak langsung menyatakan bahwa kehidupan dan dunia dapat dipahami melalui pengamatan dan penggambaran obyektif.
Kebangkitan borjuasi ternyata juga membangkitkan individualisme. Secara mudah dapat dipahami mengapa dalam realisme individu demikian menonjol; justru individu sebagai protagonis yang dengan tindakannya menimbulkan konflik dengan lingkungannya, dengan masyarakatnya yang melahirkan drama.
Sehingga tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa realisme adalah teater tokoh, teater individu. Realisme berbicara Dr. Stocmann dalam Musuh Masyarakat karya Hendrik Ibsen, Willy Loman dalam Matinya Pedagang Keliling karya Arthur Miller, Jane, Fritz, Corrie, Willem dalam Perhiasan Gelas karya Tennesse William.
Teater realisme sifatnya sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat.
Bagaimana dengan realisme di Indonesia? Lakon Moesoenya Orang Banyak hasil terjemahan Jan-Goan dari lakon Ibsen menurut Bakdi Soemanto (2001:295) secara formal konsep realisme telah menyusup ke dalam jagat teater Indonesia. Hal itu dapat dilihat dalam lakon era Poedjangga Baru yang menunjukkan sikap tanggap kepada jiwa zaman baru.
Jagat pikir realisme Indonesia pun semakin kuat ketika budaya tulis dibawanya. Zaman Jepang (1942-1945) yang membentuk Pusat Kebudayaan Jepang dengan salah satu badannya Poesat Sandiwara mendorong kegiatan teater sekaligus menyensor karya seni dengan ketat memberi makna penting bagi perkembangan teater. Itu semua tampak dalam lakon yang bertemakan masalah hidup sehari-hari denga tokoh-tokoh orang biasa. Masa ini Dr. Aboe Hanifah menulis lakon Taufan di atas Asia, Intelek Istimewa, Dewi Reni, Insan Kamil, Rogaya, Bambang Laut. Oesmar Ismail menulis lakon Tjitra, Liburan Seniman, Api, dll.
Menurut Bakdi Soemanto, titik kulminasi faham realisme di Indonesia terjadi di dua kota, yakni di Yogyakarta pada tahun 1948 berdiri Cine Drama Institute atas prakarsa Menteri Penerangan. Kemudian tahun 1949 berdirilah Institut Kebudayaan Indonesia (IKI) Jogyakarta yang diprakarsai oleh Prof. Ir. S. Purbodiningrat, Dr. Abu Hanifah, Ny. Suryadarma, Mr. Kuntjoro Purbopranoto, Ny. Ali Sastroamidjojo, King Notowijono, Mtahar, Tubir, dan Sri Murtono.
Dari institusi IKI Jogyakarta pada tanggal 1 Nopember 1951 lahirlah Sekolah Seni Drama dan Film (SSDRAF) dengan pimpinannya Sri Murtono. Kemudian sekolah ini pada tanggal 5 Mei 1955 berubah status menjadi Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta, dengan direktur pertamanya Sri Murtono (Nur Iswantara,2001:172-211). Dan di Jakarta pada tanggal 5 September 1955 berdiri Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).
Di dua akademi ini , seni teaterdipelajari secara keilmuan, artinya di studi dengan pengamatan kritis, didukung teori dan data serta direfleksikan secar cendekia. Studi akademik seperti ini merupakan pola proses kesadaran teatrawan akan lingkungan, yang kemudian ditiru di sanggar-sanggar. Tentunya termasuk dalam menstudi seni berperan membutuhkan bahasa drama yang mudah dipahami.
Semestinya dalam Festival Panggung Realis itu muncul karya-karya yang diinspirasikan dari kelas sosial tertentu yang ada di Madura. Kalau para penggiat teater memahami bahwa drama realis adalah bagian dari pengamatannya di dunia sekitarnya dan menyampaikannya dengan pola drama realis, maka bisa muncul konsep realis yang dimaksudkan panitia.
Usaha itu memang sudah nampak, seperti pada karya Kadarisman, Teman Bermain dan Matinya Harapan, yang dimainkan teater Pelangi SMAN II Sumenep. Begitu juga pertunjukan dengan lakon Karena Politik Masyarakat Menjerit (Teater Kotemang, An-nuqoyah, Guluk-Guluk), nampak ada upaya untuk ke arah realisme yang menggali dari peristiwa sehari-hari (aktual). Sementara lakon Sakera yang dimainkan Teater Fataria STAIN Pamekasan, meski dimainkan dengan gaya realis, drama ini belum masuk dalam genre realis, karena struktur naskah Sakera masih mengambil dari lakon tradisi lodruk. Kalau Sakera diaktualisasikan menjadi peristiwa kekinian, lain soal.
Yang patut dicatat bagi perkembangan teater di Madura atau Jawa Timur, adalah semangat generasi muda mamainkan teater dengan berbagai genre. Ini artinya mereka telah mencerap berbagai ilmu teater dengan berbagai informasi yang didapatkannya. Ke 20 peserta memiliki keunikan dan kekuatan. Namun sayang banyak peserta yang kurang paham konsep teater realis.

selanjutnya»»